21/10/12

APAKAH ROTAN ITU ?

Difinisi

Rattan (dari bahasa Melayu "rotan") adalah nama untuk sekitar 600 spesies pohon palm dari suku Calameae, asli daerah tropis Afrika, Asia dan Australasia.

Berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut Lepidocaryodidae (Yunani = mencakup ukuran buah).

Dalam setruktur dunia tumbuh - tumbuhan termasuk dalam Divisio Spermatophyta, sub Diviasio angeospermae, class monocotyledonae, Ordo Spacadiciflorae, dan Famili Palmae. Sampai saat ini telah dikenal 15 Family yaitu Calamus, Daemonorops, Korthalsia, Plectocomia, Plectocomiopsis, Calopspatha, Bejaudia, Ceratolobus, Myrialepis, Bejaudia, Cornera, Eremospatha, Ancitrophylum, Oncocalamus dan Scizhopatha.


Umum
Pada umumnya pohon rotan tumbuh berbeda dari pohon palm lainya yang memiliki batang tanaman ramping, diameter 2-5 cm, dan ruas antar daunnya yang panjang, dan juga tanaman rotan ini tidak tumbuh sebagaimana pohon sebenarnya, akan tetapi seperti tanaman anggur yang tumbuh merambat diantara vegetasi tanaman lainnya. 
Data gambar diperoleh dari website
Pohon rotan tidak seperti bambu yang pada bagian tengahnya terdapat rongga antar buku - bukunya, batang pohon rotan (Mallaca) adalah padat tidak memilki rongga, dan merupakan spesies tanaman yang sangat membutuhkan dukungan struktural dan tidak bisa berdiri sendiri.

Namun, beberapa genera (misalnya Metroxylon, Pigafetta, Raphia) lebih seperti pohon palm yang khas, dengan lebih gemuk, batangnya tegak. Dan pohon tersebut memiliki duri yang bertindak sebagai alat kait untuk membantu memanjat tanaman lainnya dan mencegah pemangsa herbivora. Rotan telah diketahui dapat tumbuh hingga ratusan meter. Sebagian besar (70%) dari populasi rotan di dunia ada di Indonesia, didistribusikan di antara pulau - pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Sumbawa. Sisa dari pasokan dunia berasal dari Filipina, Sri Lanka, Malaysia dan Bangladesh. Dan Indonesia memenuhi 80 % kebutuhan rotan dunia (terbesar). Dari 80 % rotan dunia tersebut, 90 % berasal dari hutan alam dan 10 % dari hasil budidaya.Luas areal yang ditumbuhi rotan sebesar 13,2 juta hektar dari 143 juta hektar hutan Indonesia (Inventarisasi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan) yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa. Indonesia memiliki 8 marga rotan yang terdiri dari 306 jenis. Dari 306 jenis ini 51 jenis diantaranya sudah dimanfaatkan.

Di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 516 jenis yang berasal dari 8 genera, antara lain :

- Calamus sebanyak 333 jenis
- Daemonorops sebanyak 122 jenis
- Korthalsia sebanyak 30 jenis
- Plectocomia sebanyak 10 jenis
- Plectocomiopsis sebanyak 10 jenis
- Calopspatha sebanyak 2 jenis
- Bejaudia sebanyak 1 jenis
- Ceratolobus sebanyak 6 jenis


Dua diantaranya merupakan genera yang bernilai tinggi yaitu Calamus dan Daemonorops.
Dari seluruh kebutuhan rotan di pasaran terdapat 68 % rotan berdaimeter besar dan 32 % rotan berdiameter kecil.

Sifat Dasar Rotan
  1. Sifat Anatoni;Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan dengan keawetan dan kekuatan antara lain besarnya ukuran pori dan tebalnya dinding sel serabut.Sel serabut merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan. Dinding sel yang tebal membuat rotan menjadi lebih keras dan lebih berat.
  2. Sifat Kimia;Secara umum, komposisi kimia rotan terdiri dari: Holoselulosa (71 – 76 %), selulosa (39 – 56 %), Lignin (18 – 27 %) dan silika (0,54 – 8 %).Holoselulosa merupakan selulosa yang merupakan molekul gula linear berantai panjang.Selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa. Makin tinggi selulosa makin tinggi juga keteguhan lenturnya. Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi. Lignin berfungsi memberikan kekuatan pada batang. Makin tinggi lignin makin tinggi juga kekuatan rotan. Tanin dikategorikan sebagai “true artrigen” yang menimbulkan rasa sepat pada rotan. Tanin berfungsi sebagai penangkal pemangsa. Hasil purifikasi tanin digunakan sebagai bahan anti rayap dan jamur. Pati (karbohidrat), terkandung 70 % dan berat basah. Makin tinggi kadar pati makin rentan terhadap serangan bubuk rotan kering.
  3. Sifat Fisik;
    Sifat fisik dari rotan adalah sifat-sifat yang dapat diamati secara kasat mata.Sifat fisik rotan dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
    • Warna;
      Warna batang rotan selalu bervariasi tidak hanya pada jenisnya saja tetapi pada jenis yang sama juga.Rotan yang baik dan berkualitas adalah batang rotan yang berwarna hijau daun pada saat masih hidup, hal ini menandai bahwa rotan tersebut sudah masak tebang. Batang rotan yang berwarna hijau daun akan berubah menjadi putih setelah selaput silikanya terkelupas dan akan makin putih setelah ada proses pemutihan (bleaching).Yang dimaksud dengan warna rotan adalah warna setelah dicuci atau dirunti atau diasapi dengan belerang dan belum mendapat perlakuan pemutihan.Pada umumnya rotan berwarna kuning langsat atau kuning keputih-putihan kecuali beberapa jenis seperti Rotan Semambu (coklat kuning) dan Rotan Buyung (kecoklat-coklatan).Selain warna kulit, perlu diperhatikan juga warna hatinya. Seperti Rotan Umbulu (putih bersih) dan Rotan Tohiti (keabu-abuan).
    • Kilap;
      Kilap dan suram dapat memberikan ciri yang khusus dari suatu jenis rotan serta dapat menambah keindahan dari rotan tersebut.Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak. Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram.
    • Bau dan Rasa;
      Menggambarkan kesegaran dari rotan tersebut, pada rotan segar bau dan rasa tidak mencolok.
    • Berat;
      Berat rotan tergantung pada kandungan air, zat ekstraktif dan zat infiltrasi dalam rotan.
      Kadar air dapat dikurangi dengan proses pengeringan yang mampu mengurangi dari 40 – 60 % menjadi titik jenuh serat (15 – 30 %).
    • Kekerasan;
      Menunjukkan bahwa batang rotan mampu menahan tekanan/gaya tertentu.
      Sifat ini dipengaruhi oleh kadar air, umur saat dipungut, posisi batang yang digunakan (pangkal, tengah, ujung).
    • Diameter;
      Diameter rotan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
      Berdiameter kecil, rotan yang berdiameter kurang dari 18 mm, seperti Rotan Sega, Irit/Jahab, Jermasin, Pulut Putih, Pulut Merah, Lilin, Lacak, Manau Padi, Datuk Merah, Sega Air, Ronti, Sabut, Batu, Tapah, Paku dan Pandan Wangi.
      Berdiameter besar, rotan yang berdiameter l8 mm atau lebih, seperti Rotan Manau, Batang, Mantang, Cucor, Semambu, Wilatung, Dahan, Tohiti, Seel, Balukbuk, Bidai, Buwai, Bambu, Kalapa, Tiga Juru, Minong, Umbulu, Telang dan Lambang.
    • Keselinderisan;Kesilindrisan dapat diperoleh dengan perbandingan antara diameter rata-rata pangkal ruas dengan diameter rata-rata ujung ruas.
    • Ruas;Ruas adalah bagian rotan yang terletak diantara dua buku.
      Panjangnya ruas dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :
      Ruas Pendek (< | = 40 cm) Ruas Panjang  (> 40 cm)
    • Buku;Buku rotan dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
      - Buku Menonjol
      - Buku Agak Menonjol
      - Buku Tidak Menonjol
    • Selaput Silika;
      Hampir semua jenis rotan memiliki lapisan silika yang membalut kulit luarnya, ada yang spesifik dan tebal seperti Rotan Sega, Jermasin, Irit/Jahab, Buyung. Lapisan silika menampilkan kilap, pekerjaan mengeluarkan lapisan silika disebut “Runti”.
    • Parut Buaya;
      Parut buaya terlihat seolah-olah bekas parut yang menggores kulit kearah transversal.
      Selain parut buaya ada pula sifat fisik berupa getah. Rotan yang mengandung getah antara lain Rotan Getah/Sepat, Lacak, Jernang, dan Jermasin.
  4. Sifat Struktur;Sifat struktur dari rotan belum banyak diketahui karena belum ada penelitian khusus terhadap sifat-sifat struktur tersebut.Yang dapat digunakan sebagai petunjuk identifikasi adalah pori. Pori rotan sangat sederhana dan dibedakan dalam beberapa bagian antara lain :
    - Ukuran
    - Bentuk
    - Susunan
  5. Sifat Mekanis;
    Sifat mekanis rotan berkaitan dengan kemampuan menahan gaya dari luar, antara lain :
    • Keteguhan Tekan, Patah, Kekakuan dan Keuletan;
      Keteguhan Tekan adalah ketahanan terhadap kekuatan yang cenderung menghancurkan.
      Keteguhan Patah adalah ketahanan terhadap kekuatan yang akan mematahkan.
      Kekakuan adalah kemampuan untuk mempertahankan bentuk bila dilengkungkan.
      Keuletan adalah kemampuan rotan untuk menahan kekuatan yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat.
    • Keteguhan Tarik;
      Keteguhan tarik adalah kemampuan rotan untuk menahan gaya yang cenderung memisahkan bagian-bagian dari rotan.
    • Keteguhan Geser;
      Keteguhan geser adalah ketahanan terhadap gaya yang menggeser rotan.
    • Keteguhan Belah;
      Keteguhan belah adalah ketahanan terhadap gaya yang membelah rotan
    • Keawetan dan Keterawetan;
      Keawetan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud adalah daya tahan terhadap faktor biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga.
      Keterawetan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet) tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet.
Pengolahan 

Di dalam hutan dimana rotan tumbuh, nilai ekonominya dapat membantu melindungi lahan hutan, dengan menyediakan alternatif bahan pengganti kayu  tropis bagi para penebang. Pohon rotan jauh lebih mudah untuk panen, membutuhkan alat-alat sederhana dan jauh lebih mudah untuk transportasi. Hal lainnya yang sangat penting adalah rotan ini juga tumbuh jauh lebih cepat dari kayu yang paling tropis. Hal ini membuat rotan sebagai tanaman potensial dalam membantu pemeliharaan hutan.


Data gambar diperoleh dari web

Umumnya, rotan mentah diolah menjadi beberapa produk untuk digunakan sebagai bahan dalam pembuatan mebel . Berbagai spesies dari berbagai jenis rotan dari diameter beberapa milimeter sampai dengan 5-7 cm dapat dimanfaatkan unukpembuatan mebel. Sebatang rotan, biasanya kulit dikelupas menggunakan sebuh alat kusus seperti pisau, yang akan digunakan sebagai bahan menganam wibing. "Inti bagian dalam dari bahan rotan" yang tersisa dari rotan dapat digunakan juga untuk berbagai keperluan dalam pembuatan mebel. Rotan merupakan bahan yang sangat baik terutama karena ringan, tahan lama, dan - sampai batas tertentu - fleksibel.

Rotan yang dipanen adalah rotan yang masak tebang dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok.

Pemanenan dilakukan dengan memotong pangkal rotan dengan pengaitnya setinggi 10 sampai 50 cm. Dengan pengait, rotan ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Kemudian diangkut ke tempat pengumpulan sementara atau ke tempat penumpukkan rotan dengan memikul, menggunakan perahu/sampan atau menggunakan bantuan tenaga kuda.

Masalah lingkungan

Pohon rotan dapat terancam karena eksploitasi yang berlebihan, terutama dengan memanen / memotong batang pohon yang masih terlalu muda hal ini akan mengurangi kemampuan mereka untuk berkembang biak dan pada akhirnya akan mengakibatkan degradasi hutan yang mempengaruhi ekosistem hutan secara keseluruhan. Dan faktor yang paling mempengaruhi perkembang biakan tanaman rotan adalah eksploitasi / penebangan pohon keras sebagai vegetasi yang membantu tumbuhnya pohon rotan.


Data gambar diperoleh dari web

Pengolahan bahan rotan juga dapat mencemari lingkungan. Penggunaan bahan kimia beracun dan bensin dalam pengolahan rotan mempengaruhi sumber daya tanah, udara dan air, dan juga pada akhirnya kesehatan masyarakat. Sementara itu, cara konvensional produksi rotan mengancam pasokan jangka panjang tanaman, dan pendapatan pekerja.


Data Gambar diperoleh dari web

Dalam pemanenan biasanya terjadi adanya limbah, besarnya limbah pada saat pemanenan rotan adalah berbeda pada setiap tipe kegiatan pemanenan, yaitu :
  • Pemanenan secara tradisional limbah sebesar 12,6 – 28,5 %
  • Pemanenan dengan bantuan tirfor dan lir limbah sebesar 4,1 – 11,1 %
  • Pada saat pengangkutan besarnya limbah sebesar 5 – 10 %.
Penggunaan

Rotan banyak digunakan untuk membuat furniture dan keranjang. Apabila dipotong dan di irat menggunakan beberapa jenis alat dan menjadi beberapa bagian, rotan dapat digunakan sebagai bahan pengganti kayu untuk membuat mebel. Rotan juga dapat di cat dan diberi aksen tertentu sebagaimana jenis kayu pada umumnya, bahkan karena karakter rotan yang sangat lentur tanpa mengurangi kekuatannya dalam proses pembuatan menjadi mebel rotan, memilki keunggulan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu.


Data gambar  diperoleh dari DDO ( Design Developtment Organization ) 

Rotan juga merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sangat menjajikan untuk masa depan karena memiliki banyak aspek yang komperatif dan kompetitif sebagai bahan baku yang ramah lingkungan tentunya dengan tata cara yang benar.


Rotan Penting Yang Terdapat di Indonesia
Rotan termasuk dalam klasifikasi tumbuhan :
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Spacaflorae
Famili/Suku : Palmae


Ada 14 Suku antara lain :
  1. Calamus (370 jenis)
  2. Daemonorops (115 jenis)
  3. Korthalsia (31 jenis)
  4. Plectocomia (14 jenis)
  5. Ceratolobus (6 jenis)
  6. Plectocomiopsis (5 jenis)
  7. Myrialepis (2 jenis)
  8. Calopspatha (2 jenis)
  9. Bejaudia (1 jenis)
  10. Cornera
  11. Schizospatha
  12. Eremospatha
  13. Ancitrophylum
  14. Oncocalamus
Di Indonesia terdapat 8 suku dengan jumlah jenisnya + 306 jenis, antara lain :
  1. Calamus
  2. Daemonorops
  3. Khorthalsia
  4. Plectocomia
  5. Ceratolobus
  6. Plectocomiopsis
  7. Myrialepis
  8. Calopspatha
Dengan penyebaran wilayah meliputi ;
  1. Kalimantan : 137 jenis
  2. Sumatera : 91 jenis
  3. Sulawesi : 36 jenis
  4. Jawa : 19 jenis
  5. Irian : 48 jenis
  6. Maluku : 11 jenis
  7. Timor : 1 jenis
  8. Sumbawa : 1 jenis
  9. Yang bernilai komersial tinggi sebanyak 28 jenis

DAFTAR PUSTAKA

Ngakan, Putu Oka. 2006. Ketergantungan, Persepsi dan Partisipasi Masyarakat terhadap Sumberdaya Hayati Hutan. Center for International Forestry Research. Bogor.

Jasni .1999. Sari Hasil Penelitian Rotan. Jurnal Departemen Kehutanan. Indonesia.

Vemy Suryo Qushayyi.2012. Makalah Rotan. JURUSAN TEKHNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNBRAW - MALANG